Dear Heart . . .
Setelah beberapa hari merenungkan banyak hal atas apa yang terjadi. Hanya membutuhkan kesendirian. Biarkan untuk tidak berkeluh kesah kepada siapapun, hingga engkau-pun mengerti maksud dari semua yang telah terjadi.
Puncak ujian datang
ketika cita-cita yang kamu dambakan tidak terkabul. Aku hanya ingin bekerja
sesuai dengan apa yang aku inginkan dan aku akan melanjutkan studi hingga mencapai
puncak karierku.
Itu hanya sebatas
rencanamu. Segala persiapan jauh hari telah kamu persiapkan. Namun, hanya
Tuhan-lah yang tahu mana yang terbaik bagimu.
Tuhan, aku tahu. Setelah impian yang aku inginkan tidak
terwujud, hidupku berantakan. Imanku menurun dan tentu itu sangat mempengaruhi
segala kehidupanku.
Rupanya, status hijrahku masih hanya untuk dunia semata. Meski
sudah aku selipkan niat amal baik, namun tetap mungkin Allah lebih tahu yang
terbaik.
Jika yang Engkau beri sekarang adalah pengobat laraku, maka
memang hamba belum siap menerima segala hal yang telah Engkau rancang sedemikan
sempurnanya. Namun segala yang memang sudah sepatutnya terjadi telah aku lalui
meski membutuhkan kesabaran lebih.
Terimakasih atas ujian yang telah Engkau beri. Dan terimakasih
telah memberi orang-orang yang dengan baiknya mengingatkanku dengan keikhlasan
mereka.

