Malam ini terasa sangat dingin.
Hujan sejak sore menetap hingga sekarang pukul 21.30 WIB. Saat-saat hati
sangat tidak karuan, lelah, letih dan terasa kalut, aku selalu mencoba untuk
menulis. Karena dengan aku menulis, hati menjadi lebih lega dan apa yang ada di
dalam hati telah tersalurkan. Meskipun menulis pada buku pribadi yang orang
lain tak akan mengetahui, paling tidak Tuhan telah membaca isi hatiku. Itu memang
sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil. Sekarang waktu untuk menulis rasanya
seperti tidak ada. Kenapa? Karena aku belum dapat mengatur waktu dengan baik. Pasti
bisa menulis meskipun dengan berbagai kesibukan sebagai seorang anggota
keluarga yang sangat-sangat berperan menggantikan tugas seorang bapak dan
sekaligus ibu. Ditambah kesibukan pekerjaan yang mengemban dipundak.
Hari-hari yang aku lalui saat-saat ini, aku rasa
begitu berat. Aku meninggalkan masalahku dengan tidur. Ketika bangun,
perasaanku akan lebih baik dibandingkan sebelumnya. Tapi yang aku sadari,
ternyata itu tidak dapat menyelesaikan masalah. Untuk sementara perasaanku
membaik, tapi ketika tiba-tiba aku ingat maka perasaanku akan kembali sakit dan
tentu akan bersedih. Bukan berarti, setiap permasalahan yang dihadapi harus
diselesaikan dengan cara menulis. Manusia punya cara sendiri-sendiri untuk
menyelesaikan masalahnya masing-masing.
***
Jum’at Pon, tanggal 29 Desember 2017 adalah hari
pelantikanku sebagai Kepala Dusun Babadan. Dalam bahasa Indonesia-nya adalah
Ketua RW yakni artinya kepala wilayah bagian. Aku tidak akan membahas kenapa
aku bisa dan mau menjadi Kepala Dusun dengan status belum menikah, sudah
menjadi yatim dan tidak ada seorang laki-laki yang dapat mengarahkanku. Yang aku
tahu saat ini, Allah mentakdirkan segala sesuatu pasti sudah diukur, ditimbang
dan pasti untuk yang terbaik bagi hamba-Nya. Meskipun awal-awal aku sangat
bersedih dan menangis, namun aku terus belajar. Belajar tentang artinya
keilkhlasan, belajar caranya mengikhlaskan diri. Karena jika aku terus dan
terus menggerutu, mengutuk keadaan, menyesali dan bersedih dengan keadaan yang
aku hadapi sekarang, maka aku tidak akan mendapatkan hikmah dibalik apa yang
terjadi padaku saat ini. Allah memilihku saat ini karena ada sesuatu hal yang
tidak aku ketahui. Dan cara terbaik untuk melunakkan hati adalah dengan cara
mengikhlaskan apa yang terjadi, dengan begitu aku dapat memahami segala sesuatu
hal dengan cara yang baik.
Menjadi seorang kepala itu bukanlah perkara mudah. Status
perangkat desa yang sepertinya tidak ada pekerjaan, jangan salah! Amanah yang
diemban itu berat, bukan ringan. Menyangga 400 lebih masyarakat ditambah
penduduk yang hanya berdomisil atau masalah-masalah yang sebetulnya aku sendiri
masih sangat awam untuk menyelesaikan itu semua. Berat? Iya berat. Itu pekerjaan
laki-laki, meskipun aku pasti bisa tapi sungguh aku tetap membutuhkan seorang
laki-laki yang dapat menuntunku dan menjadi sandaranku ketika aku sedang kalut
dan tak mampu tuk bepikir jernih. Namun, menikah bukanlah perkara yang mudah. Benar-benar
tidak mudah untuk langsung bisa memutuskan menikah ketika menurut orang sudah
ada laki-laki yang siap untuk menjadi seorang suami. Rasanya ingin menangis? Iya,
benar. Menikah bukan sebuah paksaan, atau ajang perlombaan. Menikah itu
perihal sakral, tak bisa masa depannya tergadaikan hanya karena keputusan salah
yang diambil dengan cepat. Aku juga tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang
oleh agama dengan usahaku yang masih sebatas menjaga diri sebagai muslimah.
Dengan posisiku
yang menuntutku seperti ini, apakah aku mampu? Aku hanya yakin untuk saat ini,
Allah yang membantuku dengan perantaranya yang diturunkan kepada manusia atau
apapun itu. Dia yang selalu menenangkanku, mendengarkanku dan mengerti
keadaanku. Dan masalah-masalah lain yang tidak dapat aku sebutkan adalah perkara
pribadi. Jadi aku tak akan pernah khawatir.
Sejak beberapa
masalah yang muncul, aku tak pernah melewatkan buku pribadiku yang catatannya
adalah untuk memperbaiki diri. Bukan berarti setelah memperbaiki diri maka aku
akan menjadi manusia yang sempurna dan tak ada cacat apapun. Itu semua tidak
mungkin, karena manusia adalah tempat salah, tempat meminta maaf dan memaafkan.
***
Tahun 2014, pada
tanggal 12 Pebruari hari Rabu Pahing pukul 10.00 WIB aku kehilangan seorang
yang amat dan amat aku sayangi. Di Pavilium Merpati Rumah Sakit Soedono Madiun,
ia sedang sakaratul maut, entah dari jam berapa aku tak mengetahuinya. Tiba-tiba
saja pagi itu aku ingin melihatnya. Biasanya aku datang pada sore hari dan pada
hari itu aku datang lebih pagi, untuk memberikan semangat padanya bahwa pasti
ia akan sembuh dan sehat kembali. Ternyata ia benar-benar menungguku tapi untuk
berpamitan denganku, meninggalkan untuk pergi selama-lamanya. Ia adalah bapak. Sosok
manusia yang sangat luar biasa, yang sangat dan sangat aku cintai. Aku yang
masih belum menjadi anak yang membanggakan belum dapat membahagiakanmu. Aku yang
sebagai kakak dari adek Azizah, belum dapat menjadi seorang kakak yang baik
yang memberikan contoh yang baik. Aku yang masih memiliki keimanan yang belum sempurna
masih membutuhkan tuntunan bapak. Aku belum apa-apa, tapi Allah sudah ambil
duluan. Aku ingin bahagiain bapak dulu, aku ingin menunjukan
ke semua orang bahwa aku anak kesayangan bapak bisa menjadi pribadi yang baik
dan memberikan teladan dan inspirasi bagi semua orang. Aku ingin bilang ke
semua orang, bahwa aku sayang bapak. Sangat sayang.
Di saat bapak
tidak ada, tiada yang tersisa kecuali perbaikan ketika pondasi keluarga hilang.
Siapa yang bertanggung jawab itu semua? Tentu ibuku. Aku tahu ibu adalah
seorang ibu yang hebat dan pekerja keras. Tapi, posisi Bapak dan Ibu telah
tergantikan padaku. Aku seperti menjadi seorang Bapak, menjadi seorang Ibu dan
seorang kakak bagi adikku. Menjadi kepala keluarga yang tidak hanya dari segi
finansial tapi juga pendidikan dan menjaga nama keluarga, menjadi seorang ibu
karena tugas-tugasnya telah tergkantikan padaku. Berat? Iya berat. Awal-awal
masih menggerutu dan marah, bahkan sampai sekarang-pun masih. Tapi apakah
dengan marah akan memperbaiki keadaan? Tidak. Apakah dengan menangis terus akan
memperbaiki keadaan? Tidak juga. Maka aku berusaha berdamai dengan keadaan
dengan sekuat tenaga melawan nafsu amarah. Lambat laun Allah turunkan
hidaya-Nya yang aku juga tidak tahu tiba-tiba datang. Dibilang dari segi pemikiran
sebetulnya sudah cukup, tapi keimanan masih kurang. Karena keimanan yang
melindungi diri kita dari sikap tidak terpuji. Aku yang dulu tidak usah
disebutkan, dengan bermodal ilmu agama yang aku dapatkan dari membaca ataupun
mendengarkan kajian sudah mulai terarahkan. Dan sungguh luar biasa perubahan
tersebut. Memang, dari dulu sempat ingin belajar agama lebih banyak lagi ketika
bapak masih ada. Dan ketika bapak tidak ada, aku sangat bingung bagaimana
belajar tanpa seorang bapak yang bisa menjadi pelindung dari golongan yang
tidak benar.
Allah benar-benar mendengarkan do’aku meskipun dari dalam hati saja. Itulah Maha Sayangnya Allah. Niat mau berbuat baik, Allah sudah catatkan itu di catatannya. Padahal itu baru saja niat, apalagi jika sudah dilakukan. Tetapi niat buruk yang akan kita lakukan, Allah tidak mencatat niat tersebut sebagai amal buruk. Baik bangetkan Allah? Lagi-lagi, mbak Ella-lah yang mengajakku ke tempat pengajian Shofa Madiun Kota. Memang awal-awal takut karena disana banyak sekali orang-orang alim memakai cadar dan sebagainya. Aku tidak memandang pakaian yang ia kenakan, tapi ilmu yang aku dapatkan. Aku masih sangat minim agama. Ingat? Semakin kamu mendalami sesuatu semakin kamu sadar bahwa kamu sangat tidak tahu apa-apa. Aku bersekolah di Madrasah selama 6 tahun tapi bagiku itu belum cukup untuk mengenal Allah dan mengenal agamaku.
Setelah aku mengikuti kajian tersebut, lambat laun mulai berubah dengan sendirinya. Cara bersikap, bertutur kata, berpikir dan tentunya ada perasaan yang tidak dapat diutarakan dengan kata-kata kecuali kenyamanan dalam hati. Aku tak berbohong, sama sekali tak berbohong bahwa aku sangat merasa damai dengan melihat orang-orang alim tersebut. Dan aku merasa aman ketika menutup auratku, merasa tenang dan damai ketika dekat dengan Illah, Rabbi semesta alam.
Namun, setelah
aku lurus dengan keyakinanku apakah masalahku akan selesai? Justru Allah mulai
mengujiku, mengujiku dengan kegagalan di Tes Surabaya sampai pada tahap
wawancara, mengujiku dengan seorang pria, dan terakhir mengujiku dengan menjadi
seorang pemimpin. Apakah masalahku hanya itu saja? Tidak! Apakah aku pernah
jatuh dan kembali tidak baik? Pernah! Dan setelah menjadi tidak baik apakah
Allah tidak memperingatkanku dan masalah menjadi selesai? Saking sayangnya
Allah sama kita, Allah ngasih kode bahwa apa yang aku lakukan salah! Masalahku juga
tidak akan selesai jika masih tetap tidak mau berubah. Allah rindu sangat rindu
hamba-Nya, makanya Ia kasih aku masalah dan cobaan supaya aku bisa kembali
pada-Nya, menangis pada-Nya, mengadu pada-Nya bukan mengadu pada hamba-Nya.
Allah itu Maha Cemburu, itulah tanda Allah sayang sama kita.
Allah, masihkah Engkau menerima taubatku? Masihkah Engkau mau menuntunku pada jalan kebaikan supaya aku jadi anak yang berbakti pada orang tua? Masihkah aku dapat meraih impian dan cita-cita supaya dapat membahagiakan orang tua? Aku hanya berkeyakinan dalam hati bahwa itu semua masih, selagi mau berusaha, berusaha dan terus berusaha. Setelah itu berdoa, serahkan usaha kita kepada Allah SWT. Berikhtiyar dan bertawakal kepada-Nya.
***









