search

Rabu, 07 Maret 2018

Derai



Malam ini terasa sangat dingin. Hujan sejak sore menetap hingga sekarang  pukul 21.30 WIB. Saat-saat hati sangat tidak karuan, lelah, letih dan terasa kalut, aku selalu mencoba untuk menulis. Karena dengan aku menulis, hati menjadi lebih lega dan apa yang ada di dalam hati telah tersalurkan. Meskipun menulis pada buku pribadi yang orang lain tak akan mengetahui, paling tidak Tuhan telah membaca isi hatiku. Itu memang sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil. Sekarang waktu untuk menulis rasanya seperti tidak ada. Kenapa? Karena aku belum dapat mengatur waktu dengan baik. Pasti bisa menulis meskipun dengan berbagai kesibukan sebagai seorang anggota keluarga yang sangat-sangat berperan menggantikan tugas seorang bapak dan sekaligus ibu. Ditambah kesibukan pekerjaan yang mengemban dipundak.



Hari-hari yang aku lalui saat-saat ini, aku rasa begitu berat. Aku meninggalkan masalahku dengan tidur. Ketika bangun, perasaanku akan lebih baik dibandingkan sebelumnya. Tapi yang aku sadari, ternyata itu tidak dapat menyelesaikan masalah. Untuk sementara perasaanku membaik, tapi ketika tiba-tiba aku ingat maka perasaanku akan kembali sakit dan tentu akan bersedih. Bukan berarti, setiap permasalahan yang dihadapi harus diselesaikan dengan cara menulis. Manusia punya cara sendiri-sendiri untuk menyelesaikan masalahnya masing-masing.

***

Jum’at Pon, tanggal 29 Desember 2017 adalah hari pelantikanku sebagai Kepala Dusun Babadan. Dalam bahasa Indonesia-nya adalah Ketua RW yakni artinya kepala wilayah bagian. Aku tidak akan membahas kenapa aku bisa dan mau menjadi Kepala Dusun dengan status belum menikah, sudah menjadi yatim dan tidak ada seorang laki-laki yang dapat mengarahkanku. Yang aku tahu saat ini, Allah mentakdirkan segala sesuatu pasti sudah diukur, ditimbang dan pasti untuk yang terbaik bagi hamba-Nya. Meskipun awal-awal aku sangat bersedih dan menangis, namun aku terus belajar. Belajar tentang artinya keilkhlasan, belajar caranya mengikhlaskan diri. Karena jika aku terus dan terus menggerutu, mengutuk keadaan, menyesali dan bersedih dengan keadaan yang aku hadapi sekarang, maka aku tidak akan mendapatkan hikmah dibalik apa yang terjadi padaku saat ini. Allah memilihku saat ini karena ada sesuatu hal yang tidak aku ketahui. Dan cara terbaik untuk melunakkan hati adalah dengan cara mengikhlaskan apa yang terjadi, dengan begitu aku dapat memahami segala sesuatu hal dengan cara yang baik.


Menjadi seorang kepala itu bukanlah perkara mudah. Status perangkat desa yang sepertinya tidak ada pekerjaan, jangan salah! Amanah yang diemban itu berat, bukan ringan. Menyangga 400 lebih masyarakat ditambah penduduk yang hanya berdomisil atau masalah-masalah yang sebetulnya aku sendiri masih sangat awam untuk menyelesaikan itu semua. Berat? Iya berat. Itu pekerjaan laki-laki, meskipun aku pasti bisa tapi sungguh aku tetap membutuhkan seorang laki-laki yang dapat menuntunku dan menjadi sandaranku ketika aku sedang kalut dan tak mampu tuk bepikir jernih. Namun, menikah bukanlah perkara yang mudah. Benar-benar tidak mudah untuk langsung bisa memutuskan menikah ketika menurut orang sudah ada laki-laki yang siap untuk menjadi seorang suami. Rasanya ingin menangis? Iya, benar. Menikah bukan sebuah paksaan, atau ajang perlombaan. Menikah itu perihal sakral, tak bisa masa depannya tergadaikan hanya karena keputusan salah yang diambil dengan cepat. Aku juga tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama dengan usahaku yang masih sebatas menjaga diri sebagai muslimah.


Dengan posisiku yang menuntutku seperti ini, apakah aku mampu? Aku hanya yakin untuk saat ini, Allah yang membantuku dengan perantaranya yang diturunkan kepada manusia atau apapun itu. Dia yang selalu menenangkanku, mendengarkanku dan mengerti keadaanku. Dan masalah-masalah lain yang tidak dapat aku sebutkan adalah perkara pribadi. Jadi aku tak akan pernah khawatir.


Sejak beberapa masalah yang muncul, aku tak pernah melewatkan buku pribadiku yang catatannya adalah untuk memperbaiki diri. Bukan berarti setelah memperbaiki diri maka aku akan menjadi manusia yang sempurna dan tak ada cacat apapun. Itu semua tidak mungkin, karena manusia adalah tempat salah, tempat meminta maaf dan memaafkan.


***

Tahun 2014, pada tanggal 12 Pebruari hari Rabu Pahing pukul 10.00 WIB aku kehilangan seorang yang amat dan amat aku sayangi. Di Pavilium Merpati Rumah Sakit Soedono Madiun, ia sedang sakaratul maut, entah dari jam berapa aku tak mengetahuinya. Tiba-tiba saja pagi itu aku ingin melihatnya. Biasanya aku datang pada sore hari dan pada hari itu aku datang lebih pagi, untuk memberikan semangat padanya bahwa pasti ia akan sembuh dan sehat kembali. Ternyata ia benar-benar menungguku tapi untuk berpamitan denganku, meninggalkan untuk pergi selama-lamanya. Ia adalah bapak. Sosok manusia yang sangat luar biasa, yang sangat dan sangat aku cintai. Aku yang masih belum menjadi anak yang membanggakan belum dapat membahagiakanmu. Aku yang sebagai kakak dari adek Azizah, belum dapat menjadi seorang kakak yang baik yang memberikan contoh yang baik. Aku yang masih memiliki keimanan yang belum sempurna masih membutuhkan tuntunan bapak. Aku belum apa-apa, tapi Allah sudah ambil duluan. Aku ingin bahagiain bapak dulu, aku ingin menunjukan ke semua orang bahwa aku anak kesayangan bapak bisa menjadi pribadi yang baik dan memberikan teladan dan inspirasi bagi semua orang. Aku ingin bilang ke semua orang, bahwa aku sayang bapak. Sangat sayang.



Di saat bapak tidak ada, tiada yang tersisa kecuali perbaikan ketika pondasi keluarga hilang. Siapa yang bertanggung jawab itu semua? Tentu ibuku. Aku tahu ibu adalah seorang ibu yang hebat dan pekerja keras. Tapi, posisi Bapak dan Ibu telah tergantikan padaku. Aku seperti menjadi seorang Bapak, menjadi seorang Ibu dan seorang kakak bagi adikku. Menjadi kepala keluarga yang tidak hanya dari segi finansial tapi juga pendidikan dan menjaga nama keluarga, menjadi seorang ibu karena tugas-tugasnya telah tergkantikan padaku. Berat? Iya berat. Awal-awal masih menggerutu dan marah, bahkan sampai sekarang-pun masih. Tapi apakah dengan marah akan memperbaiki keadaan? Tidak. Apakah dengan menangis terus akan memperbaiki keadaan? Tidak juga. Maka aku berusaha berdamai dengan keadaan dengan sekuat tenaga melawan nafsu amarah. Lambat laun Allah turunkan hidaya-Nya yang aku juga tidak tahu tiba-tiba datang. Dibilang dari segi pemikiran sebetulnya sudah cukup, tapi keimanan masih kurang. Karena keimanan yang melindungi diri kita dari sikap tidak terpuji. Aku yang dulu tidak usah disebutkan, dengan bermodal ilmu agama yang aku dapatkan dari membaca ataupun mendengarkan kajian sudah mulai terarahkan. Dan sungguh luar biasa perubahan tersebut. Memang, dari dulu sempat ingin belajar agama lebih banyak lagi ketika bapak masih ada. Dan ketika bapak tidak ada, aku sangat bingung bagaimana belajar tanpa seorang bapak yang bisa menjadi pelindung dari golongan yang tidak benar.

Allah benar-benar mendengarkan do’aku meskipun dari dalam hati saja. Itulah Maha Sayangnya Allah. Niat mau berbuat baik, Allah sudah catatkan itu di catatannya. Padahal itu baru saja niat, apalagi jika sudah dilakukan. Tetapi niat buruk yang akan kita lakukan, Allah tidak mencatat niat tersebut sebagai amal buruk. Baik bangetkan Allah? Lagi-lagi, mbak Ella-lah yang mengajakku ke tempat pengajian Shofa Madiun Kota. Memang awal-awal takut karena disana banyak sekali orang-orang alim memakai cadar dan sebagainya. Aku tidak memandang pakaian yang ia kenakan, tapi ilmu yang aku dapatkan. Aku masih sangat minim agama. Ingat? Semakin kamu mendalami sesuatu semakin kamu sadar bahwa kamu sangat tidak tahu apa-apa. Aku bersekolah di Madrasah selama 6 tahun tapi bagiku itu belum cukup untuk mengenal Allah dan mengenal agamaku.


Setelah aku mengikuti kajian tersebut, lambat laun mulai berubah dengan sendirinya. Cara bersikap, bertutur kata, berpikir dan tentunya ada perasaan yang tidak dapat diutarakan dengan kata-kata kecuali kenyamanan dalam hati. Aku tak berbohong, sama sekali tak berbohong bahwa aku sangat merasa damai dengan melihat orang-orang alim tersebut. Dan aku merasa aman ketika menutup auratku, merasa tenang dan damai ketika dekat dengan Illah, Rabbi semesta alam.



Namun, setelah aku lurus dengan keyakinanku apakah masalahku akan selesai? Justru Allah mulai mengujiku, mengujiku dengan kegagalan di Tes Surabaya sampai pada tahap wawancara, mengujiku dengan seorang pria, dan terakhir mengujiku dengan menjadi seorang pemimpin. Apakah masalahku hanya itu saja? Tidak! Apakah aku pernah jatuh dan kembali tidak baik? Pernah! Dan setelah menjadi tidak baik apakah Allah tidak memperingatkanku dan masalah menjadi selesai? Saking sayangnya Allah sama kita, Allah ngasih kode bahwa apa yang aku lakukan salah! Masalahku juga tidak akan selesai jika masih tetap tidak mau berubah. Allah rindu sangat rindu hamba-Nya, makanya Ia kasih aku masalah dan cobaan supaya aku bisa kembali pada-Nya, menangis pada-Nya, mengadu pada-Nya bukan mengadu pada hamba-Nya. Allah itu Maha Cemburu, itulah tanda Allah sayang sama kita.



Allah, masihkah Engkau menerima taubatku? Masihkah Engkau mau menuntunku pada jalan kebaikan supaya aku jadi anak yang berbakti pada orang tua? Masihkah aku dapat meraih impian dan cita-cita supaya dapat membahagiakan orang tua? Aku hanya berkeyakinan dalam hati bahwa itu semua masih, selagi mau berusaha, berusaha dan terus berusaha. Setelah itu berdoa, serahkan usaha kita kepada Allah SWT. Berikhtiyar dan bertawakal kepada-Nya.

***