Kamis Legi, 31 Januari
2019
(Jum'at Pahing, 01 Pebruari 2019)
Sekarang saya
ikut-ikutan pak dahlan Iskan, kalau mengisi blog beliau memakai hari biasa dan hari jawa. Hehe, setidaknya ikut melestarikan budaya jawa (nama-nama jawa:
Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage). Dan semua hari ialah baik 👸
Dua belas hari lagi mengenang 5 tahun kepergian bapak saya. Saya ingin menulis tapi ndak
banyak-banyak, singkat padat dan ambil hikmahnya (kalau ada).
Ketika bapak masih ada, beliau tidak pernah memaksa anaknya jadi apa. Yang terpenting beliau
memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tapi jika anaknya
memiliki passion, bakat dan minat yang baik, beliau mendukung. Jika itu salah,
beliau tidak memberikan nasihat yang keras, pelan tapi mengena di hati. Tahu nggak
sifat Rasulullah SAW? Iya sabar.
Dan dalam surah Ali-Imran ayat 159, Allah
berfirman
Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu.
Kembali lagi ke bab
semula. Iya, bapak tidak pingin apa-apa. Tapi bapak cuman pingin punya anak
yang baik; berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Karena sifat bapak yang begitu
lemah lembutnya, hingga diri ini ingin rasanya membalas semua atas jasa beliau.
“Maaf bapak, ibuk, kadang atus banyak khilafnya.”
Dulu ketika kuliah,
saya ingin mengabdi buat negeri. Mungkin dimulai dari desa, atau menjadi
pengajar di sekolah bapak (MTs Thoriqul Huda). Saya ingin menuntun anak-anak
sekolah untuk semangat menggapai cita-citanya meski tiada biaya. Dan keinginan
lain yang tidak ingin saya sebutkan. Ada misi untuk memajukan negeri. Kalau ada
teman bilang, “ aku ingin berkerja di luar negeri saja. dan menjadi warga di sana. Karena di Indonesia orang-orang cerdas
tidak dibutuhkan.” Saya langsung menolak pernyataan tersebut. Dirasa seperti terlalu
tega untuk meninggalkan negeri kita yang gemah ripah ini. Indonesia butuh kita,
pemuda jaya yang siap berperang. Berperang melawan kemalasan, berperang melawan
kemisikinan. Berperang melawan kebodohan.
“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Quote of Ir Soekarno.
Namun, Allah
berkehendak lain. Allah memanggil bapak saya. Cita-cita yang semula ingin berkontribusi
untuk negeri berubah menjadi seorang liberalis. Yang aku pikirkan bukan hanya
diri sendiri, melainkan keluarga. Namun doa tak pernah putus sembari Allah
memberikan petunjuk hingga mungkin tiada yang pernah saya duga sebelumnya,
jadilah seperti sekarang.
Keadaan pertama ketika
belum siap untuk menjadi seorang pamong adalah,
“Takut jikalau
tidak memberikan contoh yang baik kepada masyarakat”
Hanya itu yang paling
utama, karena sejatinya apapun jabatanmu meski itu jabatan kecil tapi semua
adalah titipan Tuhan. Karena Tuhan melahirkanmu ke dunia tentu ada sebab.
Saya takut
berada diposisi sekarang karena saya pikir saya bakal kekurangan. Namun ternyata
Allah mencukupkan, lebih dari cukup.
Dan inilah koreksi saya selama satu tahun kemarin.
Apabila Allah memberikan kelebihan apapun itu, semoga bisa berbagi. Salah satunya ialah berbagi ilmu, belajar-pun tak pernah selesai. Kita masih banyak kurangnya.
Apabila Allah memberikan kelebihan apapun itu, semoga bisa berbagi. Salah satunya ialah berbagi ilmu, belajar-pun tak pernah selesai. Kita masih banyak kurangnya.
Manusia tidak ada yang
sempurna, manusia banyak khilaf. Selagi dia mau berusaha untuk berubah, hargai
usahanya. Karena Allah Sang Maha Membolak-balikkan hati.
Maafkan aku bapak, belum bisa buat bangga jenengan. Belum bisa menjadi manusia yang baik untuk keluarga dan sesama.
Maafkan aku ibuk, masih banyak dosa dan khilafku.

